Posts

Kekecilan Ih

Image
"Eh, ada paku tuh depan kamu, ambil dong."
"Biaran aja, ntar juga ada yang ambil. Ayo buruan, bentar lagi mau iqomah."

Semenit dua menit setelah dua pemuda itu berlalu meninggalkan paku yang tergeletak itu, seorang anak perempuan menangis karena tumitnya terasa ngilu. Rupanya paku yang ditinggal tadi, kini bersarang di kaki kecil perempuan tadi. Semoga ia sudah divaksin tetanus sebelumnya.

Menyingkirkan paku dari jalan adalah amal kecil. Memberikan bangku KRL ke orang lanjut usia merupakan amal kecil. Membantu menyeberang ibu-ibu amal kecil. Menolong nenek membawa belanjaannya ialah amal kecil. Membuang bekas makan KFC kita ke tempat sampah juga amal kecil. Tapi banyak dari kita menyepelekan amal kecil itu. Merasa sudah memiliki surga dengan tahajud, sholat fajar dan dzikir pagi petang.

Kita sombong merasa sudah banyak amalnya, lupa akan amalan-amalan kecil. Padahal siapa yang tahu jika ternyata bukan amal-amal yang pahalanya sebesar langit dan bumi itu yang Allah…

Catatan kaki: Menjadi Mentor OKK UI

Image
Bulan menemani kala saya menanti mentee-mentee yang akan menghubungi saya. Dinginnya semilir angin menusuk tulang dari tubuh yang hanya memakai kaos di badan. Salah saya sendiri menanti di luar rumah. Menantang dinginnya angin Cibubur untuk menyerang diri saya.

Tak sanggup lagi, masuklah diri ini ke dalam ruang tamu. Ruang yang biasanya gelap saat malam oleh karena lampu pijar yang boros jika dinyalakan tanpa ada keperluan. Kegelapan ruang tamu itu seketika pecah setelah smartphone yang sedari isya dipegang menyala.

"asalamualaikum kak. saya amalia nurkautsara dari vokasi akuntansi 2017 kelompok 264." muncul pesan itu di display smartphone. "saya ingin bertanya nama kelompok saya apa ya ka? soalnya ingin di ketik di nametag." belum sempat membalas, muncul lagi pesan baru.

Astaga, saya sudah membayangkan seaneh apa maba (Mahasiswa Baru) yang akan saya mentori saat pesan yang pertama muncul bukan bertanya adakah grup mentoring tapi malah menanya nama kelompok. Belum…

Gambaran Kehidupan di Segelas Air Mineral

Image
Di tengah menyantap nasi padang sore itu,
pandangan mata terpaku pada segelas air mineral. Lama diperhatikan tampak ada yang aneh. Sebuah tanggal kadaluarsa jelas tercetak di situ, tertanda tanggal 26 Agustus 2023. Unik bagaimana segelas air bahkan bisa kadaluarsa. Lebih unik lagi jika kita sadari semuanya punya tanggal kadaluarsa.

Ada makanan yang baru sehari dibuat langsung basi. Ada yang butuh waktu seminggu hingga makanan tersebut berjamur. Ada makanan yang diberi antioksidan agar bisa bertahan sampai 2 tahun. Ada pula makanan yang seharusnya tidak kadaluarsa ternyata bisa pula kadaluarsa.

Berlaku pula pada manusia. Ada yang baru lahir sudah meninggal. Ada yang meninggal saat masih balita. Ada yang memang sudah bau tanah saat meninggal. Ada pula yang masih sehat tapi sudah meninggal. Hanya kita tidak tahu kapan. Karena kita bagaikan makanan di dalam kemasan. Tidak bisa lihat berapa tanggal kadaluarsa yang tercetak diluarnya.

Di sebuah warteg di pertengahan jalan, seorang wanita t…

Segampang Mengetik

Image
"Zam, lu kok bikin tulisan yang provokatif melulu sih?" Seorang teman bertanya memecah keheningan smartphone yang memang lama menganggur sejak libur kuliah.
"Provokatif itu relatif mas bro. Tergantung persepsi masing-masing. Tergantung kecondongan."
"Ah, gua bicara netral nih ga dukung siapa-siapa."
"Perasaan lu aja kali itu mah. Tulisan ini mah cuma buat mengkritik kebijakan yang menurut gua salah."

Mari lepas dari pembicaraan di atas. Situasi politik negeri ini memang tengah membuat kita mudah menggeneralisasi si A dukung A dan si B dukung B. Apapun yang kita tulis di media sosial, kini bagaikan bom waktu yang mudah meledakkan kepala-kepala si fanatik pendukung A maupun B. Berkali saya katakan, mendukung boleh menyembah jangan. Sayang tak banyak yang dengar.

Tapi artikel saya kali ini tidak sedang membahas politik, tapi membahas tulisan. Tulisan bung, bukan tumisan. Yang cukup campur minyak dan kecap, sayuran pun terasa nikmat. Tulisan lebih …

Mem-PKI-kan Lawan Berkedok Perppu

Image
Haryani tengah beristirahat sehabis mengajar di rumahnya. Seketika mobil jip berisi TNI menghampirinya dan langsung menyeretnya. Apalah daya, ia padahal tak tahu apa yang terjadi di lubang buaya. Padahal sepanjang harinya, ia habiskan dalam ruang kuliah mengajar para mahasiswa.

"Sudah, ibu pokoknya ikut sama saya ke Denpom (Detasemen Polisi Militer),” kata Heryani menirukan kata-kata tentara yang menangkapnya.

Usianya pada waktu itu masihlah muda. Pada tahun 1965, saat Indonesia berguncang karena G30SPKI, usianya baru menginjak 23 tahun. Namun di usia semuda itu ia sudah harus meringkuk di lapas Wirogunan, Yogyakarta.

"Suami lebih dulu ditangkap saat berkumpul dengan teman-temannya di Blora. Saya sedih kalau ingat itu," katanya getir.

Demikianlah secarik kisah korban orde baru saat Soeharto tengah memberantas PKI. Pada saat itu, pelanggaran HAM begitu masifnya. Hanya karena sebagian anggota PKI berusaha mengkudeta pada tanggal 30 September, anggota yang lain harus kena…

Dilema Gagalnya Dakwah

Image
Di suatu kultum di malam tarawih, pembawa materinya menyampaikan "Rasulullah memerintahkan umatnya untuk memakai pakaian terbaik mereka. Jadi, untuk anak-anak muda ini yang masih pakai kaos sebaiknya pulang saja besok, kalau mau shalat pakai baju koko atau gamis biar enak dilihat. Kalau tetap mau shalat jangan di shaf depan, mengganggu jadinya." esok harinya, kabur semua jamaahnya yang anak muda, kecuali saya.

Kisah seperti di atas memang agak janggal karena jarang terjadi. Tapi kisah seperti di atas haruslah jadi cerminan bagaimana potret dakwah di Indonesia yang masih agak mengecewakan. Marilah kita sama-sama setujui bahwa dakwah di Indonesia masih belum efektif. Masih gagalnya dai-dai kita dari menangkap momen membuat dakwah Islam kurang berkembang.

Kalau saya disuruh mengandaikan dakwah itu seperti apa, saya akan mengandaikan dakwah itu layaknya berdagang. Ada orang yang mau menyambut dan membeli dagangan kita, ada pula yang tidak mau. Sama seperti berdakwah, ada yang m…

Teologi Makan

Image
Mungkin agak telat kita bahas hal ini, tapi nyatanya tidak ada yang telat selama kita hidup. Tidak ada kata telat untuk belajar. Tidak ada kata telat untuk berpetualang. Tidak ada kata telat untuk bertaubat. Tidak ada kata telat untuk menikah (eh...). Tidak, tidak ada yang telat selama kita hidup. Telat itu jika sudah mati. Jija sudah mati, kita telat untuk bertaubat. Jika sudah mati, tak ada lagi belajar. Jadi untuk yang bilang sudah telat, maaf Anda sudah mati, dan saya tidak berbicara kepada yang mati. Marilah kita hidup.

Sudah 30 hari kita puasa, kita bahkan sudah mengklaim menang. Tapi benarkah sudah menang diri kita? Ataukah kemenangan itu hanyalah sebuah takhayul yang kita ciptakan sendiri demi sebuah perayaan? Sudah 30 hari kita menahan kebutuhan perut kita, tapi apakah kita berhasil menahan lidah kita selama 30 hari? Di sanalah mengapa Rasulullah mengatakan puasa kita lebih banyak menahan lapar dan haus saja, karena kita hanya menahan lapar perut, bukan lapar lidah.

Lapar li…